GALLUS DOMESTICA

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan singkat
Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut. Ayam-ayam kampung tersebut adalah hasil domestifikasi (tindakan yang menjinakkan unggas-unggas liar dengan program seleksi yang terarah).
Secara genetis, ayam kampung yang banyak dipelihara sekarang ini diperkirakan berasal dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius). Perkiraan ini diperkuat adanya warna hijau yang dominan pada bulu ayam di sekitar leher dan warna kemerah-merahan di tubuhnya. Sekarang ini ayam kampung sudah tersebar luas di Indonesia dan di Malaysia.
Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya.
Jenis ayam peliharaan memiliki penampilan yang beragam, dari ciri-ciri morfologis, warna, ukuran, daya roduksi, ketangkasan bertarung, hingga suara kokokannya yang khas. Ayam peliharaan yang terdapat di Indonesia sangat tinggi variasi genetisnya dan beragam penampilan fisiknya.
Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktifitas penternakan ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu.

Klasifikasi:
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Galliformes
Famili: Phasianidae
Genus: Gallus
Spesies: G. gallus
Upaspesies: G. g. domesticus
Nama trinomial Gallus gallus domesticus

B. Sistem organ dalam tubuh ayam
a. Sistem gerak
Sepasang anggota gerak depan berupa sayap, anggota gerak belakang berupa sepasang kaki untuk berjalan, hinggap atau bertengger. Alat gerak aktif, memiliki otot-otot penting, diantaranya : memiliki otot paha untuk berlari, berjalan, hinggap dan bertengger. Memiliki otot penggerak bulu ekor dan sayap serta penggerak paruh serta penggerak mata.
b. Sistem pencernaan makanan
Sistem pencernaan sempurna dari mulut ke kerongkongan (eosfagus), tembolok (pelebaran esofagus untuk menyimpan makanan sementara), lambung kelenjar (proventrikulus), lambung otot atau empedal (ventrikulus) berdinding tebal, usus halus terdiri atas (duodenum, jejenum dan ileum yang di ganutng oleh mesenterium), usus besar (terdapat sepasang usus buntu diantara usus halus dan usus besar), bermuara di keloaka di bawah ekor. Mempunyai kelenjar ludah, pankreas dan hati yang menghasilkan empedu.
c. Sistem pernafasan
Bernafas dengan paru-paru yang berhubungan dengan kantong udara yang berhubungan pula dengan tulang-tulang pipa.
d. Sistem peredaran darah
Peredaran darah tertutup berganda, yaitu : dua kali lewat jantung dan satu kali lewat ke seluruh tubuh. Jantung di bungkus oleh perikardium, beruang 4, yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel dengan sekat bilik sempurna. Lengkungan aorta hanya satu di kanan.
e. Sistem eksresi
Ginjal bertipe metanefros. Tidak memiliki kandung kemih. Vena porta ginjal tidak terbagi-bagi menjadi kapiler-kapiler darah.
f. Sistem alat indra dan sistem saraf
Lidah pada umumnya tidak dapat di julurkan. Mata mempunyai kelopak mata, membran niktitans (selaput tidur), dan kelenjar air mata. Tidak ada daun telinga; terdapat membran timpani (selaput pendengar) di bagian dalam lubang telinga luar. Lubang hidung satu pasang dengan dengan indra pencium yang kurang baik. Pemilihan makanan dengan organ perasa yang berada di sisi lidah dan langit-langit. Sistem saraf pusat berupa otak dengan 12 pasang saraf kranial. Terdapat kelenjar tiroid, adrenal, dan endokrin pituitari yang terletak di dasar otak.
g. Sistem reproduksi
Kelamin terpisah, vertilisasi internal. Bersifat ovivar, telur bercangkang keras; dierami dan menetas dengan bantuan induk atau pecah sendiri di dalamnya.
C. Sejarah Perkembangan
Sejarah ayam kampung dimulai dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air. Sampai sekarang sistem upeti dalam arti perpindahan barang (ayam kampung) dari desa ke kota masih tetap ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis.
D. Varietas
Ayam kampung mempunyai banyak varietas dan spesies, beberapa di antaranya yang penting yaitu :
1. Ayam Kedu
Ayam kedu merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Magelang dan Temanggung atau eks. Kersidenan Kedu (Jawa Tengah). Berdasarkan penampilan warnanya, ayam kedu dapat dibedakan menjadi empat jenis sebagai berikut.
 Ayam Kedu Hitam
Ayam kedu hitam mempunyai penampilan fisik hamper hitam semua, tetapi kalau diamati secara teliti warnanya tidak terlalu hitam. Penampilan kulit pantat dan jengger masih mengandung warna kemerah-merahan. Bobot ayam kedu hitam jantan dewasa antara 2 Kg – 2,5 Kg, sedangkan yang betinanya hanya 1,5 Kg. Ayam ini sering disamakan dengan ayam cemani karena tampak serba hitam.
Ayam kedu hitam
karakteristiknya :
• dilihat dari penampilan fisiknya, seolah ayam ini berwarna hitam legam. Namun, jika diamati lebih seksama ternyata bagian kulit, pantat dan jenggernya berwarna merah.
• Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2-2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,5 kg.
• Ayam kedu yang berwarna hitam merupakan tipe petelur yang baik
• produksi telur pada 12 bulan pertama adalah 123,9 butir dengan rataan bobot telur 50 g.
• Pada umumnya ayam Kedu mulai bertelur pada umur 6-7 bulan, dengan pemeliharaan secara intensif dapat mulai bertelur pada umur 4-4,5 bulan.
 Ayam Kedu Cemani
Karakteristiknya :
• Tubuhnya hitam mulus, termasuk paruh, kuku,telapak kaki, lidah dan telak (langit-langit mulut).
• Bentuk fisik tubuhnya tinggi besar. Bobot ayam jantan 3-3,5 kg kg dan ayam betina sekitar 2-2,5 kg.
Ayam kedu cemani
 Ayam Kedu Putih
Karakteristik :
 Warna bulunya putih mulus. Jengger dan kulit mukanya merah, warna kakinya putih atau kekuningan.
 Jengger berbentuk (bergerigi) dan posisinya tegak.
 Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,2-1,5 kg.
 Bentuk badan besar dan berdaging tebal, ayam betina berumur 2 tahun mempunyai bobot rata-rata 2,5 kg dan ayam jantang dengan umur yang sama mempunyai bobot 3-3,5 kg
Ayam kedu putih
 Ayam Kedu Merah
Karakteristik :
• warna bulu hitam mulus, tetapi kulit muka dan jengger berwarna merah, sedangkan kulit badannya berwarna putih.
• Sosok tubuh ayam kedu merah tinggi besar dengan bobot ayam jantan dewasa 3 Kg-3,5 Kg, Sedangkan bobot ayam betina 2 Kg-2,5Kg.
2. Ayam Nunukan
Ayam nunukan disebut juga ayam Tawao. Ayam ini merupakan ayam lokal yang berkembang dipulau Tarakan, Kalimantan Timur. Ayam nunukan diperkirakan berasal dari Cina.
Karakteristik :
• warna bulunya merah cerah atau merah kekuning-kuningan, bulu sayap dan ekor tidak berkembang sempurna.
• Paruh dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan dengan jengger dan pial berwarna merah cerah.
• Jenggernya berbentuk wilah dan bergerigi delapan.
Ayam nunukan
3. Ayam Pelung
Ayam pelung merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi (Jawa Barat).
Karakteristik :
• Ayam pelung memiliki sosok tubuh besar dan tegap, temboloknya tampak menonjol.
• Kakinya panjang, kuat, dan pahanya berdaging tebal.
• Ayam pelung jantan memiliki Jengger berbentuk wilah yang besar, tegak, bergerigi nyata dan berwarna merah cerah.
• Ayam pelung betina mempunyai jengger, tetapi jengger terseebut tidak berkembang dengan baik.
• Ayam pelung jantan dewasa mempunyai bobot badan berkisar antara 3,5 Kg – 5,5 Kg, sedangkan yang betina 2,5 Kg – 3,5 Kg.
Ayam pelung
4. Ayam Sumatra
Ayam Sumatra merupakan ayam lokal dari Sumatra Barat.
Kaaarakteristik :
• Penampilan perawakannya tegap, gagah ,tetapi ukuran tubuhnya kecil.
• Ayam Sumatra jantan berkepala kecil, tetapi tengkoraknya lebar.
• Pipinya penuh (padat), keningnya tebal, dan pialnya menggantung ke bawah.
• Paruh ayam Sumatra umumnya pendek dan kukuh berwarna hitam, dengan cuping kecil dan berwarna hitam.
• Ayam Sumatra memiliki jengger berbentuk wilah dan berwarna merah.
• Kulit muka juga berwarna merah atau hitam, ditumbuhi bulu halus yang jarang.
• Bobot ayam Sumatra jantan dewasa 2 Kg, sedangkan yang betina 1,5 Kg.
ayam sumatera
5. Ayam Belenggek
Ayam belenggek berasal dari Sumatra Barat, tepatnya dipedalaman Kabupaten Solok.
Karakteristik :
• Ayam ini pandai berkokok dengan suara yang merdu dan iramanya bersusun-susun, panjang sampai terdiri atas 6-12 suku kata.
• Semakin panjang suku katanya, semakin panjang kokoknya.
6. Ayam Gaok
Ayam gaok bersal dari madura dan Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep.
Karakteristik :
• kokoknya memiliki suara panjang yang hampir sama dengan ayam pelung yang terdapat di Cianjur (Jawa Barat).
• Ayam Gaok jantan dewasa memiliki bobot badan mencapai 4 Kg, sedangkan yang betina 2 - 2,5 Kg.
• Ayam Gaok jantan memiliki tampilan tubuh besar, tegap dan gagah.
• Jenggernya besar berbentuk wilah dan berwarna merah, dengan pial yang besar dan warnanya merah.
• Kakinya berwarna kuning.
• Bulunya didominasi oleh warna kuning kehijau-hijauan (wido), namun ada juga yang berwarna lain, seperti merah dan hitam putih.
ayam gaok
E. Pemeliharaan
Ada dua cara memelihara ayam kampung, yaitu dipelihara dengan dilepas bebas atau istilahnya diliarkan dan yang kedua dibudidayakan. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.
1. Diliarkan
Cara pemeliharaan ini pada umumnya dilakukan oleh masyarakat pedesaan, cara ini disebut sebagai cara tradisional. yaitu dilepas bebas berkeliaran di kebun-kebun sekitar rumah.
Keunggulan
Ayam kampung yang dilepas bebas biasanya mempunyai tingkat kekebalan yang tinggi dan menghemat biaya makanan. Umumnya ayam cukup diberi makan pagi hari saat akan dilepas berupa sisa-sisa makanan dan tambahan bekatul secukupnya. Selebihnya ayam dianggap dapat mencari makan sendiri disekitar rumah.
Kelemahan
Kelemahannya di antaranya yaitu ayam lambat untuk berkembang lebih banyak, karena tingkat kematian pada anak ayam relatif lebih tinggi. Waktu mengasuh terlalu lama yang berarti mengurangi produktifitas. Kendali akan keberadaan ayam kurang, sehingga kemungkinan dimangsa predator maupun hilang lebih tinggi. Cara pemeliharan ini kurang produktif.
2. Dikandangkan
Semula hewan yang kini dipelihara hidup bebas di alam, di hutan, di pegunungan dan lautan lepas. Jumlah hewan-hewan ini beraneka ragam, dan sifat-sifat kehidupannya pun bermacam-macam. Jumlah yang banyak dan beragam itu tidak seimbang dengan jumlah manusia yang masih sedikit dan hidup di gua-gua terpencil untuk melindungi diri dari serangan binatang buas. Kebutuhan untuk hidup mendorong manusia memanfaatkan tanaman dan binatang yang dapat ditangkap atau dibunuhnya. Dari kegiatan itulah manusia mengalami proses belajar untuk mengenal hewan yang enak dimakan dan mudah ditangkap atau dibunuh. Perbendaharaan manusia akan hewan konsumsi mulai bertambah. Di antara hewan yang digemari, adalah hewan-hewan kecil yang mudah ditangkap atau dibunuh. Proses terus berkembang dan kegemaran akan hewan-hewan konsumsi mulai meningkat pada usaha untuk dengan mudah memperoleh tanpa harus mencari-cari di hutan. Inilah penyebab timbulnya keinginan untuk memelihara hewan dengan cara dikandangkan. Cara pemeliharan ini kurang produktif.
Kandang adalah tempat tinggal hewan yang dipelihara, salah satunya ayam, tempat berlindung dari terik matahari dan hujan, tempat mendapat pakan dan minum, mendapat jaminan kesehatan dan aman dari gangguan hewan pemangsa lainnya serta orang-orang jahat. Oleh karena itu kandang sangat berperan penting dalam pemeliharaan ayam kampong.
Keunggulan
Ayam yang dikandangkan lebih mudah dikontrol keberadaannya, dapat mempercepat populasinya dengan cara setiap ayam yang bertelur diambil dan dikumpulkan untuk ditetaskan secara bersama dalam satu indukan atau mesin penetas. Anak ayam tidak harus mengikuti induknya. Namun dapat dipisah dan ditempatkan dengan pemberian panas cahaya listrik (untuk penghangat) dan makanan yang sesuai.
Kelemahan
Apabila kondisi kandang tidak diperhatikan dan tidak sesuai syarat, maka kondisi hewan peliharaan jstru akan memburuk, hal ini disebabkan kondisi yang telah membuat hewan ternak memiliki ketergantungan terhadap pemeliharanya, sehingga memerlukan perhatian yang lebih dibandingkan dengan cara diliarkan. Oleh karena itu kondisi kandang merupakan hal yang sangat penting dalam cara pemeliharaan ini, misalnya pada saat pembuatan kandang harus diperhatikan beberapa faktor, di antaranya yaitu masalah biologis ayam yang akan menempatinya, teknik pembuatan kandang yang berhubungan langsung dengan masalah bentuk dan kualitas bahan, serta masalah iklim, suhu, pergerakan angin dan pengaturan udara yang berhubungan langsung dengan temperatur dan kelembaban kandang serta ventilasi udara.
f. Peranan bagi kehidupan manusia:
a. Sebagai Sumber Pangan
Ayam kampung disukai orang karena dagingnya yang kenyal dan "berisi", tidak lembek dan tidak berlemak sebagaimana ayam ras. Berbagai masakan Indonesia banyak yang tetap menggunakan ayam kampung karena dagingnya tahan pengolahan (tidak hancur dalam pengolahan). Selain itu daging ayam kampung memiliki keunggulan dibandingkan daging ayam broiler, karena kandungan nutrisi yang lebih tinggi. Bagian Daging dada ayam ini termasuk makanan utama atlet binaraga. Dagingnya mengandung 19 jenis protein dan asam amino yang tinggi. Kadar lemaknya juga relatif lebih rendah bila dibandingkan daging pada bagian pahanya. Ayam kampung dipelihara oleh masyarakat terutama sebagai sumber protein hewani baik berupa telur maupun daging, di samping kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman maupun pakan ikan. Sebagai sumber protein hewani telur dan daging mengadung asam amino esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dan berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, agar ayam kampung dapat berproduksi dengan baik salah satunya harus diberikan pakan yang cukup. Ayam kampung memerlukan komposisi nutrisi yang tepat, termasuk jika menginginkan ayam kampung yang memiliki tingkat produksi telur yang tinggi. Berat telur ayam kampung berkisar antara 26,27-55,4 gr dengan rataan 45,46.
b. Contoh Manfaat persilangan ayam kampung
Persilangan ayam kampung varietas lain dengan ayam pelung bertujuan memanfaatkan pejantan pelung yang kualitas suaranya jelek akan tetapi pertumbuhannya bagus untuk memperoleh nilai tambah atau keunggulan dari hasil persilangan kedua jenis ayam tersebut.
c. Kebiasaan atau sifat ayam kampung yang merugikan
Beberapa kebiasaan atau sifat yang kampung yang meugikan, di antaranya yaitu :
1. Kanibalisme
Kanibalisme pada ayam kampung adalah mematuk bahkan memakan kawan sendiri. Kanibalisme pada ayam kampung dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu ayam kekurangan zat makanan, misalnya protein, mineral dan air minum; jumlah ayam dalam satu kandang terlalu padat, sehingga ayam saling berebut tempat yang paling menyenangkan; udara dalam kandang terlalu panas, karena sistem ventilasi kandang kurang baik; ayam kekurangan grit.
2. Memakan telur
Peristiwa ayam memakan telur (egg eating) sering dijumpai pada pemeliharaan ayam sistem kandang litter. Untuk menghindari ayam memakan telurnya sendiri, zat-zat mineral (NaCl dan Ca)dan air minum yang dibutuhkan ayam harus dipenuhi.
3. Rontok Bulu
Rontok bulu merupakan peristiwa alami yang wajar bagi ayam. Tetapi bila hal ini terjadi terlalu cepat, jelas akan merugikan peternak ayam.
g. Penyakit dan Cara Penanggulangannya
Ayam kampung termasuk jenis unggas yang tahan terhadap penyakit. Tetapi tidak berarti bahwa ayam kampung tidak dapat diserang oleh penyakit.
Jenis Penyakit
Berikut ini beberapa penyakit yang sering menyerang ayam kampung.
1. Tetelo
Penyakit tetelo merupakan penyakit ayam yang sangat berbahaya dan sulit ditanggulangi. Penularannya dapat melalui berbagai media, antara lain : Kontak langsung antara ayam sehat dengan ayam yang sakit; Tamu yang masuk kedalam kompleks peternakan membawa bibit kuman penyakit ini; Tempat makan dan minum yang kurang bersih, sehingga mudah ditempeli oleh virus penyakit ini; Burung-burung liar (misalnya burung gereja) yang ikut memakan makanan ayam. Tingkat kematian akibat penyakit ini sangat tinggi, sekitar 10-100%.
2. Pilek (snot)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri (Hemophilus galiarum). Penularannya dapat melalui berbagai media, antara lain :Kontak langsung antara ayam sehat dengan ayam yang sakit; Melalui udara, debu, makanan dan alat-alat dalam kandang yang kurang bersih; Tamu yang masuk kedalam kompleks peternakan membawa bibit kuman penyakit ini; Burung-burung liar (misalnya burung gereja) yang ikut memakan makanan ayam. Tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit ini juga sangat tinggi.
3. Berak darah (Coccidiocis)
Berak darah (Coccidiocis) dapat menyerang ayam segala umur. Penularannya dapat terjadi melalui : binatang lain (seperti tikus, burung, ayam liar yang masuk kedalam kandang dan telah membawa bibit penyakit atau empat makan dan minum yang kurang bersih.
4. Sesak napas
Sesak napas penyebabnya adalah bakteri (Mycroplasma gallisepticum). Penyakit ini menyerang alat-alat pernapasan, sehingga ayam kesulitan untuk bernapas.
5. Berak Kapur
Berak kapur disebabkan oleh bakteri (Salmonella pullorum). Penyakit ini lebihsuka menyerang anak ayam dan ayam dara. Penularannya melalui : Telur; Kontak langsung antara ayam sehat dengan ayam yang sakit; peralatan penetasan dan peralatan-peralatan kandang yang kurang bersih.
Cara Menanggulangi Penyakit
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penularan penyakit, peternak harus segera mengakaratina ayam yang dicurigai sakit, melarang atau membatasi tamu yang masuk kekompleks peternakan. Disamping itu kebersihan peralatan kandang, seperti tempat pakan dan minum serta keadaan kandang harus selalu diperhatikan.

BAB III
PENUTUP 

A. Kesimpulan
Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial. Secara genetis, ayam kampung yang banyak dipelihara sekarang ini diperkirakan berasal dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius).
Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya.
Beberapa varietas ayam kampung, diantaranya :
1. Ayam Kedu
2. Ayam Nunukan
3. Ayam Pelung
4. Ayam Sumatra
5. Ayam Belenggek
6. Ayam Gaok
Jenis ayam peliharaan memiliki penampilan yang beragam, dari ciri-ciri morfologis, warna, ukuran, daya roduksi, ketangkasan bertarung, hingga suara kokokannya yang khas. Ayam peliharaan yang terdapat di Indonesia sangat tinggi variasi genetisnya dan beragam penampilan fisiknya.
Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Bergerak dengan kaki dan ekor sebagai penyeimbang, ayam ini memiliki Sistem pencernaan yang sempurna, yaitu Mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, usus, keloaka. Bernafas dengan paru-paru. Peredaran darah tertutup berganda, alat indra berupa lidah, Mata, selaput pendengar, lubang hidung. Sistem saraf pusat berupa otak. Reproduksinya bersifat ovivar.
Cara pemeliharaanya ada dua, yaitu diliarkan dan dikandangkan. Masing-masing dari kedua cara tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Perananna bagi bagi manusia yaitu yang paling dominan sebagai bahan pangan, bisa di kawin silangkan dan ada juga ayam-ayam yang dapat merugikan.
Penyakit pada ayam: Berak Kapur, Sesak napas, Berak darah (Coccidiocis), Pilek (snot), Tetelo.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment